Thank you, thank you, buddies. Yes, I'm a very happy 19 years old girl :D
Wednesday, November 14, 2012
Tuesday, November 13, 2012
Counting Down to 19
Saya sedang mengamati pergantian hari. Sedang menyaksikan perubahan malam menjadi pagi. Sedang menikmati hari terakhir saya menulis angka 18 di kolom usia.
Di waktu-waktu yang seperti ini, solilokui tiba-tiba jadi barang favorit. Karena saya sedang sendiri, dan sedang ingin bercakap dengan diri sendiri.
Di waktu-waktu yang seperti ini, rindu terasa sangat mendominasi. Rindu senyuman orang tua saya, rindu tawa adik-adik saya, rindu pelukan kakak saya. Dan yang paling saya rindukan, adalah ucapan selamat yang mereka ucapkan dengan kecanggungan tingkat dewa.
Di waktu-waktu yang seperti ini, saya mencoba introspeksi. Melihat seberapa banyak target yang belum tercapai, seberapa sedikit accomplishment yang sudah saya gapai. Mengukur sudah seberapa jauh saya berjalan, menimbang seberapa berat yang masih harus dijalankan.
Saya sedang merasa tua, karena saya tidak lagi berharap tanggal ini diingat semua teman, tidak lagi berharap mendapat kejutan, tidak lagi mengharap meniup lilin permohonan. Di sisi lain saya masih merasa muda, karena saya masih ingin tau siapa-siapa saja yang menyisakan memori untuk mengingat, meluangkan waktu untuk mengucapkan selamat di waktu yang tepat, memberi doa pengharapan dengan khitmat.
Dasar manusia...
Seperti tahun-tahun yang sudah lalu, tahun ini saya tidak punya hadiah manis untuk diri saya sendiri. Hanya setumpuk target dan sederet harapan, yang semoga saja tidak membuat saya tersiksa saat berusaha mewujudkannya. Tapi saya berjanji tahun depan akan ada "sesuatu", yang saya harap "sesuatu" itu tidak berakhir sebagai wacana seperti biasanya. Kenapa tahun depan? Yah, karena saya ingin 20 saya berbeda.
Di waktu-waktu yang seperti ini, solilokui tiba-tiba jadi barang favorit. Karena saya sedang sendiri, dan sedang ingin bercakap dengan diri sendiri.
Di waktu-waktu yang seperti ini, rindu terasa sangat mendominasi. Rindu senyuman orang tua saya, rindu tawa adik-adik saya, rindu pelukan kakak saya. Dan yang paling saya rindukan, adalah ucapan selamat yang mereka ucapkan dengan kecanggungan tingkat dewa.
Di waktu-waktu yang seperti ini, saya mencoba introspeksi. Melihat seberapa banyak target yang belum tercapai, seberapa sedikit accomplishment yang sudah saya gapai. Mengukur sudah seberapa jauh saya berjalan, menimbang seberapa berat yang masih harus dijalankan.
Saya sedang merasa tua, karena saya tidak lagi berharap tanggal ini diingat semua teman, tidak lagi berharap mendapat kejutan, tidak lagi mengharap meniup lilin permohonan. Di sisi lain saya masih merasa muda, karena saya masih ingin tau siapa-siapa saja yang menyisakan memori untuk mengingat, meluangkan waktu untuk mengucapkan selamat di waktu yang tepat, memberi doa pengharapan dengan khitmat.
Dasar manusia...
Seperti tahun-tahun yang sudah lalu, tahun ini saya tidak punya hadiah manis untuk diri saya sendiri. Hanya setumpuk target dan sederet harapan, yang semoga saja tidak membuat saya tersiksa saat berusaha mewujudkannya. Tapi saya berjanji tahun depan akan ada "sesuatu", yang saya harap "sesuatu" itu tidak berakhir sebagai wacana seperti biasanya. Kenapa tahun depan? Yah, karena saya ingin 20 saya berbeda.
Monday, October 29, 2012
Stuck on the Puzzle
Saya mengingatmu sebagai sosok yang hampir selalu lupa nama saya, yang hampir selalu menanyakan saya anak siapa. Saya mengingatmu sebagai sosok yang selalu memeluk saya sambil berair mata, menangisi kealpaanmu akan siapa saya.
Tidak banyak yang terekam memori saya. Hanya sebatas itulah ingatan seorang anak berusia lima.
Tapi potongan adegan langkah kecil saya menyusuri jalan di kota itu, derak lantai kayu tempat kita bertemu, dan cara saya mendapat pelukan darimu... kesemuanya dapat dengan mudah membawa air mata haru. Apalagi ditambah kenyataan bahwa sekuat apapun rindu, ia tidak akan berhasil membawa kita ke dimensi yang sama untuk kembali bertemu dan berbagi cerita.
Kamu mungkin tidak tau, tapi kami mengunjungimu, selalu, setidaknya sekali dalam setahun. Dari tiap kunjungan itu saya mengumpulkan kepingan cerita tentangmu dari mereka yang beruntung lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu.
Andai saja kamu bisa tau, kami selalu rindu.
Tidak banyak yang terekam memori saya. Hanya sebatas itulah ingatan seorang anak berusia lima.
Tapi potongan adegan langkah kecil saya menyusuri jalan di kota itu, derak lantai kayu tempat kita bertemu, dan cara saya mendapat pelukan darimu... kesemuanya dapat dengan mudah membawa air mata haru. Apalagi ditambah kenyataan bahwa sekuat apapun rindu, ia tidak akan berhasil membawa kita ke dimensi yang sama untuk kembali bertemu dan berbagi cerita.
Kamu mungkin tidak tau, tapi kami mengunjungimu, selalu, setidaknya sekali dalam setahun. Dari tiap kunjungan itu saya mengumpulkan kepingan cerita tentangmu dari mereka yang beruntung lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu.
Andai saja kamu bisa tau, kami selalu rindu.
Tuesday, October 16, 2012
Soliloquy
Selamat mencaci diri sendiri.
Untuk kesempatan yang tersia-sia.
Untuk energi yang habis tanpa sisa.
Untuk waktu yang terbuang cuma-cuma.
Selamat mengutuki diri sendiri.
Untuk semua iya yang berakhir dengan tidak.
Untuk semua mau yang berakhir dengan enggan.
Untuk semua rela yang berakhir dengan paksa.
Selamat menulis ulang cerita dengan menebus lunas dosa.
Selamat menulis ulang janji dengan lebih hati-hati.
Selamat menyusun keping kepercayaan dari mereka yang kau patahkan.
Selamat mencari puing keyakinan pada diri yang kau remukkan.
Untuk kesempatan yang tersia-sia.
Untuk energi yang habis tanpa sisa.
Untuk waktu yang terbuang cuma-cuma.
Selamat mengutuki diri sendiri.
Untuk semua iya yang berakhir dengan tidak.
Untuk semua mau yang berakhir dengan enggan.
Untuk semua rela yang berakhir dengan paksa.
Selamat menulis ulang cerita dengan menebus lunas dosa.
Selamat menulis ulang janji dengan lebih hati-hati.
Selamat menyusun keping kepercayaan dari mereka yang kau patahkan.
Selamat mencari puing keyakinan pada diri yang kau remukkan.
Monday, October 15, 2012
Kembali
Lambatkan jalanmu, wahai sang Waktu. Jangan suka terburu. Berikan saya sedikit pemaklumanmu untuk merasa lelah dan duduk bercengkrama dengan mereka yang saya cinta, dalam satu masa.
Saya akui, perjalanan ini terlalu mengasyikkan. Saya terlalu sering lupa menyamakan langkah di persimpangan jalan. Lagi dan lagi, saya lewatkan kesempatan meringkukkan tubuh ke dalam hangat peluk mereka.
Dan kali ini, sebelum kami berlayar ke arah mata angin yang berbeda, pertemukanlah kami dan biarkan kami sedikit bermain dengan sistem maha kaku-mu, kembali ke masa-masa yang telah lalu.
Saya akui, perjalanan ini terlalu mengasyikkan. Saya terlalu sering lupa menyamakan langkah di persimpangan jalan. Lagi dan lagi, saya lewatkan kesempatan meringkukkan tubuh ke dalam hangat peluk mereka.
Dan kali ini, sebelum kami berlayar ke arah mata angin yang berbeda, pertemukanlah kami dan biarkan kami sedikit bermain dengan sistem maha kaku-mu, kembali ke masa-masa yang telah lalu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

